Sabtu, 02 Juni 2012

Rezeki dari Allah


Sahabat, salah satu sifat Allah Swt yaitu Ar-Rozaq. Yang artinya, maha pemberi rezki. Allah Swt yang menciptakan kita sudah mengatur rezeki untuk hamba-hambanya. Sejenak kita simak taujih aa gym tentang Rezeki.


Saudaraku, bukankah kita ini sudah cukup lama berada di dunia. Sekian tahun atau sekian puluh tahun kita tumbuh dan berkembang. Makanan tercukupi, minuman pun demikian. Pakaian punya, tempat tinggal ada meskin mungkin belum menjadi hak miliknya. Sekian lamanya rezeki kita dicukupkan. Lantas, masihkah kita pantas berprasangka buruk bahwa rezeki kita tak akan cukup? Masihkan kita patut untuk ragu dan curgia bahwa Allah Swt tak akan mencukupkan rezeki kita?

Ada seseorang yang tidak akan lama lagi memasuki masa pensiun. Meski masa pensiun itu belum tiba, namun ia sudah gusar dan gelisah. Ia khawatir di masa pensiunnya nanti ia tidak lagi bisa memenuhi nafkah keluarganya. Ia takut tidak bisa lagi membiayai kuliah anaknya. Ia gelisah jika ia tidak bisa lagi melanjutkan cicilan-cicilannya. Ia berpikir bahwa dahulu ketika penghasilannya pas-pasan saja sudah terasa berat, apalagi nanti ketika masa pensiun itu datang.

Berbagai kekhawatiran dan kegelisahan ini ia rasakan ketika masa pensiun belum benar-benar datang. Sudah demikian besar kegelisahannya, apalagi nanti ketika masa pensiun itu tiba. Padahal jika ia mau melihat ke belakang, berapa puluh tahun ia hidup di masa lalu, dan rezekinya tetap tercukupi. Makan setiap hari, minum tak pernah sulit, tempat tinggal untuk bertedu ada, pakaian punya, dan anak-anaknya juga menjalani kehidupan seperti biasanya.

Padahal jika mengukur kepada gaji, tidak akan cukup ia membiayai kesemua itu. Namun, Allah Swt mencukupi rezekinya dan menutupi kekuranan-kekurangannya. Rezeki dari Allah Swt tidak tergantung kepada gaji bulanannya. Rezeki dari Allah Swt senantiasa datang kepadanya kapan saja dan dari jalan yang tiada pernah ia sangka-sagka. Malah, bukankah lebih banyak orang yang tidak memiliki gaji bulanan tapi tetap saja hidup dan sehat.

Orang yang Haqqul yakin terhadap Allah Swt, ia yakin bahwa dunia ini dengan segala isinya adalah milik Allah, sedangkan ia hanyalah tinggal sebentar saja di dunia. Ia pun meyakini bahwa dunia ini tidak akan pernah dibawa kemana-mana. Jika ia mati pun, dunia tak akan pernah ia bawa sedikitpun. Ia meyakini bahwasanya dunia ini kecil belaka.

Sebagaiman firman Allah Swt dalam salah satu hadits qudsi, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Seandainya dunia itu ada nilainya di sisi Allah bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun, tentu Dia tidak akan sudi member minum pada orang kafir meskipun seteguk air.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini memberi makna bahwa dunia ini sungguh tidak ada harganya. Hadits ini juga menjelaskan bahwa rezeki dan kebahagiaan dunia diberikan juga oleh Allah pada orang kafir maupun fasik, bahkan sering diberikan lebih bayak kepada mereka dibanding yang diberikan kepada orang-orang sholeh. Ini menunjukkan saking tidak ada artinya nilai dunia dibandingkan akhirat.

Mau berapa juta triliun pun uang yang dikejar berapa gudang pun emas berlian yang digali, sungguh itu bisa dengan mudah Allah Swt tumpahkan kepada mereka. Namun, mau dibawa kemanakah semua itu? Pada akhirnya tetap akan mati, tanpa membawa sepeser pun dari harta kekayaannya. Jasadnya kemudia dikubur di dalam tanah lalu hancur lebur diurai belatung dan serangga.

Orang yang Haqqul yakin terhadap Allah Swt akan jauh berbeda denga orang yang hanya mengenal Allah Swt secara ala kadarnya. Ketika melihat orang lain memiliki kekayaan melimpah ruah, orang yang Haqqul yakin akan berpikir bahwa orang itu sedang ditipi harta oleh Allah Swt. Sedangkan orang yang pada Allah yakin secara ala kadarnya, akan dibakar rasa iri dengki di dalam jiwanya. Hatinya panas, jantungnya berdetak kencang karena berharap harta kekayaan itu berpindah kepadanya.

Ketika orang yang Haqqul yakin terhadap Allah Swtt memiliki harta kekayaan melimpah ruah, maka ia akan berpikir bahwa semua harta miliknya itu hanyalah titipan Allah Swt. Ia akan dengan penuh semangat bersedakah, mengelolanya demi meraih ridha Allah Swt. Ia lakukan hal itu karena yakin bahwa semua kekayaan adalah ujian.

Saudaraku, Allah Swt memberikan petunjuk kepada kita bahwasanya kita diciptakan dan dihadirkan di dunia ini dengan tujuan untuk beribadah kepadaNya. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepadaKu” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Tunaikan ibadah dengan ikhlas, sebagai bekal kita pulang kembali kepadaNya.

Apabila kita taat dan patuh kepada Allah Swt dalam mengarungi kehidupan di dunia, maka kita akan dibimbing olehNya untuk menjemput dan bertemu dengan rezeki kita serta berjumpa dengan takdir terbaik kita. Jalani hidup dengan lurus mengikuti jalur yang sudah dijelaskan oleh Allah Swt. Tidak perlu meragukan kebenaranNya. Bukankah saat kita masih berwujud janin pun Allah Swt mengurus segala kebutuhan kita, mencukupi rezeki kita.

Jika cita-cita kita adalah kebahagiaan di akhirat, maka sesungguhnya kebahagiaan dunia akan mengikuti. Jika cita-cita kita adalah akhirat dan kita berusaha dengan segala daya upaya untuk meraihnya maka kesenangan dunia akan datang kepada kita. Jika kemudian kita mendapatkan takdir kaya raya, maka kita akan jadi orang kaya yang shaleh dan dermawan. Jika Allah menakdirkan kita terkenal, maka kita terkenal karena kejujurannya, kedermawanannya, rasa empatinya kepada sesama dan terkenal karena sikap rendah hati dan ketawadhuannya.

Saudaraku, yakinlah dengan rezeki yang Allah Swt berikan. Tugas kita adalah berusaha yang terbaik, dan serahkan urusan kepada Allah. La Haula Wala Quwata Illa Billah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izinnya Allah.

Wallohu’alam bisshowab.

2 komentar:

  1. Assalamualaikum .. mohon share, copy dan jadikan panduan . syukran . semoga Allah membalas :)

    BalasHapus
  2. Subhanallah, syukran atas artikelnya yang bermanfaat :D

    BalasHapus