Sabtu, November 05, 2016

Mencintai Al-Quran

Allah SWT berfirman:

وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ  ؕ  لَوْ اَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّاۤ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْ  ؕ  اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
"dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di Bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."
(QS. Al-Anfal: Ayat 63)

Aksi bela Islam 411 adalah bukti cinta umat Islam untuk membela Al-Quran.

Melihat info-info dari jauh tentang saudara kita yang ikut aksi benar-benar membuat hati rindu. Rindu ingin juga bisa ikut kesana. Masya Allah.

Aku disini, hanya bisa mendoakan. Disini semoga aku juga bisa menjadi pendakwah Al-Quran.

Ditengah hiruk pikuk pekerjaan, juga masalah yang ada disini. Semoga aku tetap kuat. Tetap Istiqamah. Tetap bersemangat melakukan amal-amal terbaik. Melakukan pekerjaan dengan penuh profesional. Juga memiliki akhlak yang mulia.

Semoga Allah selalu memberikan pertolongan dan kekuatan dalam setiap urusan kita. Aamiin.

Jumat, Oktober 28, 2016

Pelopor Kebaikan

Di dunia ini selalu ada dua kutub yang seringkali sulit untuk bertemu satu sama lain. Meski sebenarnya, jarak keduanya tidaklah teramat jauh dan bahkan kerap berdekatan. Hanya saja, di antara kedua kutub ini berdiri dinding tebal, besar dan tinggi yang memisahkan.

Mereka yang berada di balik kedua dinding itu, satu sisi tak mampu mendaki ketinggiannya, sisi lain takut menuruni lembah yang curam. Satu pihak tak punya daya menghancurkan dindingnya, pihak lain tak ingin tangannya terluka, meski memiliki kekuatan untuk memecah ketebalan pemisah itu.

Si kaya dan si miskin adalah dua kutub yang seringkali tak bertemu meski jarak keduanya bisa saja sangat dekat bahkan berdampingan. Di sekitar rumah-rumah mewah, banyak berdiri gubuk reot dan rumah-rumah yang nyaris roboh. Penghuninya, janda tua, fakir miskin atau anak-anak yatim. Keduanya sering bertemu, tapi tak saling mengenal. Kerap berjalan beriringan, yang satu berjalan kaki, satu lainnya melintas cepat dengan mobil mewahnya.

Ada orang-orang yang tengah diuji dengan berbagai kesulitan, sementara di seberang lainnya terdapat orang-orang yang selalu mendapat atau memiliki segala kemudahan dalam hidup. Semestinya keduanya bisa bertemu, agar yang mendapat kesulitan bisa terbantu.

Tidak sedikit orang-orang yang hidup dalam kekurangan, sedangkan di pihak lain tidak sedikit pula mereka yang berkelebihan. Bukan karena yang kelebihan ini serakah dan tak berkenan berbagi kelebihannya kepada yang kekurangan. Dinding tebal dan tinggi kerap menghalangi langkah mereka menuju tempat-tempat yang kekurangan.

Begitu pula dengan soal makanan, ada orang-orang yang masih kelaparan di negeri ini. Namun ada pula yang terpaksa membuang makanannya karena berlebih atau bahkan kekenyangan. Bukan lantaran mereka senang makan berlebihan, atau punya kebiasaan membuang-buang makanan. Mereka hanya tak tahu dimana bersembunyi orang-orang yang kelaparan yang seharusnya mendapat bagian dari rezeki yang mereka punya.

Orang-orang yang terkena bencana, bukan tidak ada yang mau membantu atau memberikan sumbangan untuk meringankan penderitaannya. Sebenarnya, dermawan banyak bertebaran di berbagai tempat dan siap membantu, hanya saja mereka sering tak tahu dimana bencana itu terjadi dan bagaimana menyalurkan kedermawanannya.

Dua kutub lainnya, adalah orang-orang yang memiliki keterbatasan akses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sehingga sering dianggap orang-orang bodoh dan malas belajar. Padahal mereka hanya perlu dipertemukan dengan orang yang punya banyak buku-buku masih bermanfaat namun teronggok di gudang-gudang penyimpanan barang bekas. Ada yang bingung harus membeli lemari baru karena jumlah pakaiannya terus bertambah, sementara yang lain mengenakan pakaian yang itu-itu saja setiap hari.

Ada anak-anak yang kelebihan berat badan, ada pula yang kurang gizi. Ada yang bersekolah di gedung sekolah mewah berfasilitas lengkap dan modern, ada pula yang gedung sekolahnya nyaris roboh. Ada yang bingung tak punya sepatu, ada lagi yang bingung memilih sepatu. Ada yang mudah mengeluarkan uang seratus ribu rupiah, ada pula yang harus berdarah-darah untuk mendapatkan seribu rupiah.

Mudah mempertemukan dua kutub ini sepanjang ada orang-orang yang merelakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menjadi relawan. Mereka yang mau mendaki terjalnya tebing, memanjat tingginya dinding, menempuh perjalanan jauh, menerjang badai, angin, terik matahari serta gelap dan dinginnya malam, merelakan pundaknya menampuk beban guna menjadi perantara kebaikan.

Sebisa mungkin kita menjadi pelopor dan pelaku kebaikan, menjadi relawan itu pun sebuah kebaikan yang tak semua orang mau melakukannya. Namun ia juga berperan sebagai perantara orang yang memerlukan pertolongan dengan yang ditolong, orang yang kelebihan dengan yang kekurangan, antara mereka yang ingin berderma dengan mereka yang layak mendapat derma. Mereka juga menjadi penunjuk jalan bagi orang lain untuk menyampaikan sendiri kepeduliannya.

Tanyakan kepada mereka yang sudah menjalaninya, ada yang ingin berhenti menjadi perantara kebaikan? (Bayu Gawtama)

Selasa, Oktober 18, 2016

Aku ingin bertaubat!

Beribu pelajaran udah kamu dapetin. Tapi jujur, kamu ga akan dapat apa-apa dari ilmu itu kalo kamu ga amalin. Ilmu itu akan sia-sia. Manusia tempatnya khilaf. Tapi, please! Jangan khilaf terus.

Kalo kamu teruus mikirin dunia, kamu bakal ngeluh terus. Sebaliknya kalo kita inget Allah, inget akhirat, hidup kamu akan tenang terbimbing. Masya Allah.

Sekarang apa yang kamu ingin wujudkan? Aku ingin bertaubat. Sungguh-sungguh bertaubat. Ingin sekali sholat berjamaah 5 waktu di masjid. Ingin sekali terbiasa tilawah Quran 1 Juz. Ingin sekali selalu terbiasa menghafal Quran. Ingin menghidupkan sunnah sholat (tahajud, dhuha, hajat). Ingin sekali menjadi hamba yang ringan melakukan ibadah (sedekah, berbuat baik). Ingin sekali kerja profesional. Ingin pelan-pelan membangun usaha di manokwari. Ingin menulis buku yang inspiratif dan juga best seller. Ingin berbagi manfaat bagi sebanyak-banyak orang. Ingin memiliki akhlak yang baik kepada semua orang. Ingin sekali bisa selalu tenang dalam menghadapi masalah. Ingin bisa selalu berwajah ceria walaupun sedang kondisi sempit.

Ya Allah, hamba ingin menjadi hamba-Mu yang sungguh-sungguh bertaubat. Hamba ingin menjadi hamba-Mu yang selalu ingat kepada-Mu. Bantulah hamba Ya Allah. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan kemudahan dalam menjalani setiap langkah. Aamiin.

Minggu, Oktober 16, 2016

Apakah Makna Pernikahan?

Dalam buku Wonderful Husband, Pak Cahyadi Takariawan, menyampaikan makna pernikahan.

Pernikahan adalah akad untuk beribadah, akad untuk membangun rumah tangga sakinah, mawadah, wa rahmah.

Pernikahan adalah akad untuk saling mencintai, akad untuk saling menghormati dan menghargai, akad untuk saling membantu dan meringankan beban, akad untuk saling menasihati, akad untuk setia kepada pasangannya dalam suka dan duka, dalam kesulitan dan kesuksesan, dalam sakit dan sehat, serta dalam tawa dan air mata.

Pernikahan berarti akad untuk meniti hari-hari dalam kebersamaan, akad untuk saling melindungi, akad untuk saling memberikan rasa aman, akad untuk saling mempercayai, akad untuk saling menutupi aib, akad untuk saling mencurahkan perasaan, akad untuk berlomba menunaikan kewajiban, akad untuk mudah mengakui kesalahan, akad untuk saling meminta maaf, akad untuk saling memaafkan, akad untuk tidak menyimpan dendam dan kemarahan, serta tidak ketinggalan, akad untuk tidak mengungkit-ungkit kelemahan, kekurangan, dan kesalahan.

Pernikahan adalah akad untuk tidak melakukan pelanggaran, akad untuk meninggalkan kemaksiatan, akad untuk tidak saling menyakiti hati dan perasaan, akad untuk tidak saling menyakiti badan, akad untuk mesra dalam perkataan, akad untuk santun dalam pergaulan, akad untuk indah dalam penampilan, akad untuk sopan dalam mengungkapkan keinginan, akad untuk berlaku lembut kepada pasangan, akad untuk memberikan senyum termanis, juga akad untuk berlaku romantis dan selalu berwajah manis.

Pernikahan adalah akad untuk saling mengembangkan potensi diri, akad untuk adanya saling keterbukaan yang melegakan, akad untuk saling menumpahkan kasih sayang, akad untuk saling merindukan, akad untuk saling membahagiakan, akad untuk tidak adanya pemaksaan kehendak, akad untuk tidak saling membiarkan, akad untuk tidak saling mengkhianati, akad untuk tidak saling meninggalkan, termasuk akad untuk tidak saling mendiamkan.

Pernikahan juga bermakna akad untuk menebarkan kebajikan, akad untuk mencari rezeki yang halal dan thayib, akad untuk menjaga hubungan kekeluargaan, akad untuk berbakti kepada orangtua dan mertua, akad untuk mencetak generasi berkualitas, akad untuk siap menjadi bapak dan ibu bagi anak-anak, bahkan akad untuk membangun peradaban masa depan.

Pernikahan adalah akad untuk segala yang bernama kebaikan!

Mewujudkanmu (suara cerita)

Tidak semudah yang aku pikirkan...

https://soundcloud.com/suaracerita/mewujudkanmu

Wonderful

Kita tidak akan bisa menjadi sempurna. Namun aku akan berusaha yang terbaik. Insya Allah.

Kita tidak luput dari kesalahan. Sering lupa, egois, kurang perhatian, suka malas. Namun itu semua dapat diupayakan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Menjadi hamba yang terbaik. Insya Allah.

Kalo kita masih suka telat sholat. Masih suka lalai. Masih sedikit kebaikannya. Cobalah paksakan diri untuk melakukan kebaikan! Paksakan diri untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik.

Usaha yang keras, dan berdoa sungguh-sungguh, insya Allah akan merubah keadaan menjadi lebih baik. Jangan pernah pesimis dengan kondisi saat ini. Masa depan adalah milik orang-orang yang beriman. Orang-orang yang dengan kesungguhannya, ingin menjadi hamba yang terbaik di hadapan Allah. Karena ia yakin, akan selalu ada Allah dalam setiap aktivitas. Karena ia yakin, barangsiapa yang menolong agama-Nya, Allah akan menolong pula urusannya.

Duhai Allah, jadikan hati kami menjadi hati yang selalu ingat kepada-Mu. Hati yang yakin dengan janji dan pertolongan-Mu.

Allohumma aini'ala dzikrika wasyukrika wahusni'ibadatik. aamiin.

Pengalaman

"Gapapa kan, kamu akan lebih banyak pengalaman disana." Kata seniorku yang dapat penempatan pulang ke kampungnya.

Rasanya denger nasihat dari orang seperti itu, males banget. Kenapa males? Dia ga pernah dapat pengalaman yang lebih keras dari yang aku alami.

Dia ga pernah ngerasain, betapa sulitnya berada di ujung timur sini. Ga ngerasain tiket mudik yang mahal banget. Hingga menghabiskan gaji + TK 2 bulan. Ga ngerasain tinggal di lingkungan baru. Lingkungan dengan budaya dan adat yang berbeda. Ga ngerasain betapa kerasnya dalam mendapatkan data. Harus ke pedalaman, ke distrik yang sangat jauh dengan menanggung resiko. Ya Allah..

Mungkin itu yang membuat dakwah kita gagal. Berbicara, namun tidak melakukan. Hanya teori, tapi ga praktek. Itu yang membuat dakwah kita gagal.

Bagi seorang Dai, haruslah menjadi teladan yang baik. Melakukan terlebih dahulu, sebelum memberikan nasihat. Memberikan contoh, sebelum mengajak. Indah sekali karakter seorang Dai.

Ibarat seorang enterpreneur, yang mengisi seminar. Ia didengar karena ia melakukan. Melakukan segala proses nya, jatuh bangun ia membuat usaha, hingga berhasil. Ia melakukan! Ia yang berjuang! Bukan hanya teori.

Kadang aku takut, memberi nasihat namun tidak sesuai dengan perbuatan. Semoga Allah memberikan kekuatan kepadaku untuk menjadi hamba yang konsisten. Sesuai antara perkataan dan tindakan. Nasihat yang baik, diiringi dengan teladan yang baik pula. Insya Allah.

Fitrah manusia jika dalam hidup, kadang suka mengeluh. Tapi melalui tulisan ini, aku berusaha meneguhkan hati untuk tetap berjuang disini. Tetap bertahan dengan kondisi sesulit apapun. Aku hanya perlu bekerja lebih keras. Lebih banyak melakukan kebaikan dengan ikhlas. Lebih banyak memohon pertolongan Allah.

Bukankah setiap doa dan usaha tidak ada yang disia-siakan oleh Allah? Semoga Allah selalu menjadi yang utama.