Minggu, Oktober 16, 2016

Wonderful

Kita tidak akan bisa menjadi sempurna. Namun aku akan berusaha yang terbaik. Insya Allah.

Kita tidak luput dari kesalahan. Sering lupa, egois, kurang perhatian, suka malas. Namun itu semua dapat diupayakan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Menjadi hamba yang terbaik. Insya Allah.

Kalo kita masih suka telat sholat. Masih suka lalai. Masih sedikit kebaikannya. Cobalah paksakan diri untuk melakukan kebaikan! Paksakan diri untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik.

Usaha yang keras, dan berdoa sungguh-sungguh, insya Allah akan merubah keadaan menjadi lebih baik. Jangan pernah pesimis dengan kondisi saat ini. Masa depan adalah milik orang-orang yang beriman. Orang-orang yang dengan kesungguhannya, ingin menjadi hamba yang terbaik di hadapan Allah. Karena ia yakin, akan selalu ada Allah dalam setiap aktivitas. Karena ia yakin, barangsiapa yang menolong agama-Nya, Allah akan menolong pula urusannya.

Duhai Allah, jadikan hati kami menjadi hati yang selalu ingat kepada-Mu. Hati yang yakin dengan janji dan pertolongan-Mu.

Allohumma aini'ala dzikrika wasyukrika wahusni'ibadatik. aamiin.

Pengalaman

"Gapapa kan, kamu akan lebih banyak pengalaman disana." Kata seniorku yang dapat penempatan pulang ke kampungnya.

Rasanya denger nasihat dari orang seperti itu, males banget. Kenapa males? Dia ga pernah dapat pengalaman yang lebih keras dari yang aku alami.

Dia ga pernah ngerasain, betapa sulitnya berada di ujung timur sini. Ga ngerasain tiket mudik yang mahal banget. Hingga menghabiskan gaji + TK 2 bulan. Ga ngerasain tinggal di lingkungan baru. Lingkungan dengan budaya dan adat yang berbeda. Ga ngerasain betapa kerasnya dalam mendapatkan data. Harus ke pedalaman, ke distrik yang sangat jauh dengan menanggung resiko. Ya Allah..

Mungkin itu yang membuat dakwah kita gagal. Berbicara, namun tidak melakukan. Hanya teori, tapi ga praktek. Itu yang membuat dakwah kita gagal.

Bagi seorang Dai, haruslah menjadi teladan yang baik. Melakukan terlebih dahulu, sebelum memberikan nasihat. Memberikan contoh, sebelum mengajak. Indah sekali karakter seorang Dai.

Ibarat seorang enterpreneur, yang mengisi seminar. Ia didengar karena ia melakukan. Melakukan segala proses nya, jatuh bangun ia membuat usaha, hingga berhasil. Ia melakukan! Ia yang berjuang! Bukan hanya teori.

Kadang aku takut, memberi nasihat namun tidak sesuai dengan perbuatan. Semoga Allah memberikan kekuatan kepadaku untuk menjadi hamba yang konsisten. Sesuai antara perkataan dan tindakan. Nasihat yang baik, diiringi dengan teladan yang baik pula. Insya Allah.

Fitrah manusia jika dalam hidup, kadang suka mengeluh. Tapi melalui tulisan ini, aku berusaha meneguhkan hati untuk tetap berjuang disini. Tetap bertahan dengan kondisi sesulit apapun. Aku hanya perlu bekerja lebih keras. Lebih banyak melakukan kebaikan dengan ikhlas. Lebih banyak memohon pertolongan Allah.

Bukankah setiap doa dan usaha tidak ada yang disia-siakan oleh Allah? Semoga Allah selalu menjadi yang utama.

Sabtu, Oktober 15, 2016

Berjuang

Bagaimana rasanya tinggal jauuuh dari orangtua, dan tidak tahu lingkungan dituju, musti harus berangkat dengan terpaksa?

Bagaimana rasanya jika kamu merasa dizolimi, angkatanmu dibuang, angkatan selanjutnya kemudian disayang?

Bagaimana rasanya yaa?

Dan itu sedang aku alami, sudah mencoba neguhin hati disini, namun msh saja ada halangan bwt langkah selanjutnya..

Ya Allah...

Kuatkan hamba dalam menjalani setiap episode hidup yang Engkau berikan kepada kami.
Engkau Maha Baik, Maha Pengurus, tolonglah kami dalam setiap urusan kami.

"Maka sesungguhnya bersamakesulitan itu ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan." (Qs. Al-Insyiroh: 5-6)

Kamis, Oktober 13, 2016

Mengeja Nama

Pernahkah tiba-tiba kita menemukan nama yang rasanya seperti tidak ingin luput disertakan dalam bait-bait doa? Kita endapkan segala ingatan tentangnya. Kita eja pelan-pelan susunan namanya, sambil menyertakan kalimat,

“Bukalah mata hatinya. Tunjukilah ia pada jalan cahaya. Entah firasat atau apa, dia adalah orang yang baik, tulus, dan berjasa.”

Di lain waktu, ia sertakan pula nama yang lain dengan kalimat yang sedikit berbeda,

“Bukalah mata hatinya. Tuntun ia kembali pada jalan cahaya. Entah firasat atau apa, dia adalah orang yang sedang kebingungan saja.”

Kemudian di lain kesempatan, ia selipkan lagi sebuah nama yang berbeda dari sebelumnya. Permohonannya pun tak sama.

“Bukalah mata hatinya. Taburkan benih kesabaran dalam tiap pijaknya. Entah firasat atau apa, dia adalah orang yang siap berjuang bersama.”

Kemudian di akhir permohonan, ada satu nama yang sengaja diselipkannya pada baris terakhir. Dengan kalimat yang sedikit lebih panjang, ia memohon.

“Bukalah mata hatinya untuk mengenali sejatinya kebenaran. Jangan lepaskan ia barang sekejap mata. Himpun ia bersama para shalihin, entah pantas atau tidak. Sebab disadari betul amal shalihnya tak seberapa. Jika nama-nama yang telah diejanya berulang kali lebih dulu masuk Surga, sedangkan namanya sendiri justru tertinggal. Tolong, ingatkan satu saja dari sekian nama itu untuk kembali mengingatnya, agar Engkau berkenan menghimpunnya kembali bersama mereka.”

Tahukah bahwa nama terakhir adalah namanya sendiri? Si pengeja nama, yang entah namanya sendiri pernahkah dieja oleh nama-nama yang lebih dulu diendapkannya.

………………………………………………………………………….

Jadi, nama siapakah yang sering kau eja?

@laninalathifa

Allah lebih tahu

Allah hanya meminta kita taat, entah ketika sendiri maupun saat telah dibersamakan dengan seseorang. Kelak, akan ada masanya sebuah rasa bukan lagi sekadar isyarat. Bersabarlah, sedikit lagi. Jangan mudah meluluhlantakkan perasaanmu sendiri. Bukankah Allah lebih tahu kemanakah nantinya hati ini menetap?

Minggu, Oktober 09, 2016

Genggamlah dengan Iman

Mimpi-mimpimu akan aman jika digenggam dengan Iman. Ia tak akan membuatmu sembarangan dalam menentukan keputusan besar. Ia tak akan membuatmu galau dalam masa-masa berjuang. Ia akan menghantarkanmu dengan semangat yang besar dalam mengupayakan sebaik-baik perjuangan. Ia akan menuntun hatimu untuk patuh dan ikhlas pada setiap kehendak-Nya. Jika digenggam dengan iman, berhasil atau gagal tidak akan menjadi pelik yang dipersoalkan, karena keduanya akan menjadikanmu semakin taat dan mendekat kepada Sang Pemilik Keputusan.

Masa depanmu aman, jika digenggam dengan iman. Ia tak akan membuatmu khawatir atas pergantian waktu dan tahun yang nanti akan datang berdatangan. Ia tak akan mengiming-imingimu dengan dengan kebahagiaan yang nyatanya sekarang masih menjadi angan-angan. Ia akan membuat sikap percaya dan baik sangka menjadi mudah untuk dilakukan. Ia akan menuntun langkahmu untuk menyapa perubahan. Jika digenggam dengan iman, kekhawatiran diganti menjadi perjuangan, dan rasa takut berganti menjadi keikhlasan.

Genggamlah semuanya dengan iman. Semoga Allah menukar seluruh kekhawatiranmu dengan ketenangan, memudahkanmu dalam berjuang, dan mempertemukanmu dengan banyak pintu kebaikan. Aamiin.

Sabtu, Oktober 08, 2016

Bertumbuh

kamu tidak harus berubah. banyak orang memaksakan diri untuk berubah, ujung-ujungnya malah kembali kepada dirinya yang semula–dirinya yang penuh cela, yang ingin dia ganti.

tapi kamu harus bertumbuh. pilihlah untuk menjadikan masalah dan pengalaman sebagai pelajaran hidup yang membuat dirimu semakin ‘kaya’. biarkan rangkaian pelajaran itu membuat dirimu dipahamkan–mengubah dirimu.

tumbuhlah besar.
besar ilmumu, besar amalmu.
besar hatimu, bukan besar kepalamu.
besar cita-citamu, besar cintamu.
besar ikhtiarmu, besar tawakalmu.
besar ikhlasmu, sabarmu, syukurmu.

tumbuhlah dewasa.
kamu tak pernah terlalu muda untuk begitu.

@prawitamutia