Rabu, Agustus 17, 2016

Cermin

"Kalau aku biasanya mengibaratkan kritikan orang lain, entah itu baik ataupun buruk, benar ataupun salah, kayak cermin. Cermin dihadapan kita ini bisa ngeliat kekurangan wajah kita, kalau lagi kusut, muka lecek, dan sebagainya. Karena cermin itu kita tahu, karena cermin itu jugalah kita mengerti apa yang harus diperbaiki, mana yang harus dipoles. Sayangnya, cermin ini hanya bisa melihat kekurangan di area wajah atau area fisik yang lainnya. Tapi enggak bisa melihat kekurangan kita yang non fisik, seperti kepribadian, sikap, karakter. Kita butuh cermin dalam bentuk lain untuk melihatnya. Untuk kemudian, memperbaiki apa yang kurang dari diri kita berdasarkan bayangan dari cermin itu."

(Terimakasih atas nasihatnya yang benar-benar manfaat).

Senin, Agustus 15, 2016

Abang Wildan

Tahu ga? Hal yang bikin buat sedikit panik itu ketika kita tahu anggota keluarga kita sakit, tapi kita ga bisa bantu apa-apa (selain doa) karena terpaut jarak yang jauh.

Begitulah yang aku rasakan saat ini. Aku baru aja dapat kabar, adikku Wildan sakit. Bahkan beliau disarankan untuk operasi dokternya.

Ya Allah berikanlah kesembuhan untuk adikku. Semoga sakitnya juga bisa jadi penggugur dosa. Aamiin.

Alhamdulillah, selain denger kabar sedih, dapet kabar gembira juga dari Adek Dini. Beliau mau ikut story telling di sekolahnya. Lagi sibuk hafalan ceritanya. Bahkan sempat story telling lewat telpon. Masya Allah. Seneng dengernya. Akhirnya Adek Dini berani buat tampil. Semoga berhasil ya Adek Dini.

Ya Allah, Ya Hafidz, jagalah keluarga kami. Berikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan dalam hidup kami. Aamiin Ya Robb.

Minggu, Agustus 14, 2016

Memberikan Warna

Apakah kita yang sudah Tarbiyah ini, sudah memberikan warna bagi lingkungan sekitar kita? Sudah memberikan manfaat bagi sekitar kita? Jangan sampai kita sebagai Dai menjadi orang yang asing atau diasingkan dari lingkungan kita.

Topik itulah yang diangkat saat pertemuan liqo pekanan (8 Agustus 2016). Rasanya aku jadi malu, apa yang sudah saya berikan selama ini? Sudahkah saya memberi manfaat bagi sekitar saya? Atau hanya memikirkan urusan sendiri? Astaghfirulloh.

Kehadiran kita sebagai Dai haruslah memberikan manfaat. Sekecil apapun itu. Memberikan kontribusi yang terbaik bagi lingkungan kita. Ikut turun tangan mengatasi masalah. Ringan tangan dalam menolong. Memiliki akhlak yang santun.

Seorang Dai tidak hanya berpikir tentang ruhiahnya sendiri, tapi juga memikirkan kondisi umat ini. Mengajak kepada kebaikan dengan cara yang baik. Insya Allah dengan usaha yang kuat dan doa yang terus dipanjatkan kita bisa mempersembahkan yang terbaik dalam hidup ini. Aamiin Ya Robb.

Rabu, Agustus 03, 2016

Dua Adek Perempuanku

Ayah bunda ku selalu mengucap syukur ketika punya anak-anak yang sholeh/a dan juga bisa manfaat bagi banyak orang.

Ayah bunda punya empat orang anak. Dua laki-laki dan dua perempuan. Seimbang ya? Alhamdulillah.

Anak laki-lakinya telah merantau pergi, tapi insya Allah tetap terpaut dalam hati dan doa.

Anak perempuannya masih deket dengan ayah bunda.

Aci Wulan yang kuliah di Bogor, semoga urusan kuliahnya lancar dan lulus dengan nilai yang terbaik.

Adek Dini yang baru masuk SMPIT, semoga tambah sholeha dan hafal Al-Quran, aamiin.

Aci yang baru kemarin (30 Juli) ulang tahun. Semoga Aci tambah dewasa, sholeha, dan banyak memberi manfaat bagi sebanyak-banyak orang. Aamiin.

Makasih Aci kiriman fotonya, bener-bener bikin homesick T.T

Selasa, Juli 26, 2016

Keliru Meletakkan Takut

“Akhirnya sampai juga..” ucapku ketika aku pertama kali sampai di tempat penempatanku. Perjalanan menuju tempat penempatanku lumayan lama. Berangkat dari Bandar soekarno-hatta, terus transit di Makassar, dan akhirnya menuju tempatnya. Kabupaten Manokwari, ibukota provinsi Papua Barat.

Ada beberapa ketakutan sebelum aku berangkat ke tempat penempatanku ini. Takut yang sebenarnya diciptakan oleh pikiran saya telah menjelma  menjadi takut yang berlebihan.

Takut yang pertama adalah terhadap orangtua saya. Bagaimana dengan orangtua saya? Apakah aku bisa merawatnya? Apakah orangtuaku akan baik-baik saja? Padahal sejatinya, bukan aku yang mengurus orangtuaku. Bukan aku yang mengurus adik-adikku. Yang mengurus siang-malam, dan tak pernah luput pengurusannya adalah Allah Azza Wa Jalla. Maka aku pasrahkan semua hanya pada Allah. Semoga Allah Azza Wa Jalla menjaga dan selalu melindungi keluargaku.

Takut yang kedua adalah lingkungan disana. Apakah kamu tahu, manokwari terkenal dengan kota injil? Bayangan itu yang awalnya menghantuiku. Aku selalu berdoa, “Ya Allah pertemukan aku dengan orang-orang baik yang dapat mengarahkanku kepada kebaikan.” Hingga akhirnya aku menjalaninya hingga saat ini. Alhamdulillah. Karunia yang besar bagiku bisa mengenal orang-orang baik yang dapat membimbingku. Aku dipertemukan dengan Ustadz Imam Muslih yang sekarang menjadi pembimbingku. Orang yang sangat perhatian. Ketika ada saudara yang sakit, ia menjadi orang yang pertama menjenguk. Ketika ada musibah kebakaran. Ia langsung bergerak mengirimkan bantuan. Ketika ada saudara yang membutuhkan pertolongan, ia tak segan untuk memberikan pertolongan semaksimal mungkin. Masya Allah.

Nyatanya banyak sekali orang baik disekelilingku. Kepala seksiku, Mas Alim Sholehuddin. Ia orang yang taat sekali ibadah. Orang yang selalu bersyukur dan bersabar dalam setiap keadaan. Kak Syirrul yang jadi teladan dalam membina adik-adik remaja SMA disini. Ustadz Sumaryan yang aktif sekali mengisi pengajian di sekitar Manokwari. Mas Febri yang juga aktif dakwah disini. Banyak sekali orang baik disini. Alhamdulillah.

^_^

Ujian sesulit apapun kalo kita berusaha untuk menghadapinya, berusaha untuk menyelesaikannya, insya Allah akan teratasi. Kalau hanya kita menyandarkan kepada pengalaman, ilmu yang kita punya, rasanya ga akan selesai. Tapi kalo kita juga mengandalkan Allah Yang Maha Berkehendak. Hidup kita akan terbimbing. Urusan kita akan diurus oleh Allah. Allah Ar-Rasyid akan memberikan petunjuk lewat jalan-jalan terbaiknya. Insya Allah.

Hasbiyallohu laailahailla huwa ‘alai tawakkaltu, wahuwa robbul ‘arsyil ‘azhim. Cukuplah Allah sebagai penolong kita. Sesulit apapun, insya Allah akan ada jalan keluarnya selama kita mau meminta pertolongan Allah.


Alhamdulillah. Sebisa mungkin disini aku akan banyak belajar. Karena pada prinsipnya, dimanapun kita tinggal, kita harus memberikan manfaat. “Khoirunnas ‘anfauhum linnas” Sebaik-baik kalian adalah yang banyak memberikan manfaat. Insya Allah dimanapun kehadiran kita akan memberikan manfaat bagi sebanyak-banyak orang.

Rabu, Juli 13, 2016

Bunda...

Bunda, aku pernah berputus asa, terlempar oleh gelap yang segelap-gelapnya. Hampa, kosong dan menyakitkan. Tak tahu harus apa, tak tahu harus bagaimana. Hidup tapi serasa mati. Resah. Gelisah. Menakutkan. Sampai akhirnya aku mengenal apa itu harapan. Ia memang tak selalu bisa membawa pada kebahagiaan, ia juga tak selalu bisa mengisi kekosongan. Tapi ia telah membuatku bertahan, memberiku alasan untuk bertahan lebih lama, untuk berjuang, untuk lebih percaya dengan kekuasaan Tuhan.

Bunda, telah lama aku mencari tahu apa yang dimaksud dengan bahagia. Kenapa begitu sulit untuk kuraih. Begitu jauh, sulit sekali terjangkau. Lantas, aku mencoba untuk menysusun mozaik-mozaik kebahagiaan yang pernah menyapa. Sebagian harus kuhapus karena semu. Apakah layak disebut kebahagiaan jika hati tak tenang, jika dengan kebahagiaan itu banyak orang lain yang menderita. Akhirnya, aku bertemu dengan kenyataan yang mengajarkan kerja keras; lalu menerima kerja keras itu dengan penuh kesyukuran, apapun hasilnya. Dengan begitu kebagian bisa lebih nyata untuk dirasakan. Akhirnya, aku menyadari, bahawa kebahagiaan itu akan lebih nikmat dirasakan sambil mengurangi penderitaan orang lain.

Bunda, aku juga sangat menginginkan untuk hidup berkecukupan. Berbagai cara pernah kujalani untuk mencapainya. Mengumpulkan harta. Mengumpulkan segala. Tapi tak pernah bisa. Sulit sekali. Sampai aku menyadari bahwa orang yang berkecukupan adalah mereka yang bisa memberi, lain dari itu bukan.

Bunda, aku sangat malu ketika menyadari bahwa keluhanku adalah bukti dari ketidakdewasaanku. Karena ternyata, dewasa itu sangatlah relatif. Seseorang bisa dewasa untuk suatu masalah, tapi belum tentu untuk masalah yang lainnya. Orang perorang punya pengalamannya sendiri, punya latarbelakang yang membentuk dirinya sendiri. Tak manusiawi jika semuanya disamakan, lebih tak manusiawi lagi jika mengharuskan mereka untuk selalu sama dengan kita, untuk mengikuti segala keinginan kita.

Bunda, sekarang aku menyadari bahwa dewasa adalah pelajaran sepanjang hidup. Tak boleh berhenti untuk didalami, tak boleh selesai untuk diselami, tak boleh berakhir, tak boleh. Bahkan sejatinya, dewasa itu harus selalu ditambah, harus selalu digali, harus selalu ditingkatkan, dari masalah ke masalah, dari peristiwa ke peristiwa, dari fase hidup ke fase hidup yang lainnya. Dan pembelajarannya begitu unik, sangat spesial. Tak cukup sekali diajari, tak cukup berkali-kali, tak pernah cukup. Karena sebagaimana kesabaran, kedewasaan memang sengaja diciptakan Allah tanpa batas.

Adek Dini (3)

Yang paling bikin kangen rumah, selain ayah bunda adalah bisa ketemu adek Dini. Beliau selalu bisa jadi penghibur dimanapun.

Saat di mobil, hari itu H-1 keberangkatanku menuju Manokwari. Aku benar-benar harus meneguhkan hati lagi untuk berangkat. Perjalananku selama mudik lumayan jauh. Dan satu hal yang aku pikirkan, apakah tidak ada satupun pekerjaan atau usaha yang bisa aku kerjakan disini? Haruskah begitu jauh aku jemput rezeki dari-Mu?

"Apa yang kita anggap tidak baik, padahal bisa jadi menurut Allah baik bagimu." Petikan ayat yang aku ulang-ulang agar meneguhkan hatiku.

Disaat yang sama adek Dini dengan riang ngobrol aja. Ngobrolin temen2nya. Ngobrolin sesuatu yang bikin suasana hidup. Masya Allah.

Aku belajar bahwa bagaimanapun keadaan, jadilah orang yang bisa jadi pembawa solusi. Jadi penghibur. Jangan malah bikin rumit keadaan.

Adek Dini juga kalo senggang, beliau suka ngelakuin hal yang disukai. Gambar, baca buku, nonton film kartun. Aku juga belajar jadikan waktu kita diiisi dengan hal yang disukai dan bermanfaat.

Terimakasih Adek Dini udah ngasih pelajaran yang berharga. Semoga Adek Dini selalu jadi penghibur hati buat keluarga dan jadi anak yang sholeha, juga hafidz Qur'an. Aamiin.

Yang merindukanmu, Aak.