Jumat, Januari 22, 2016

Balasan Cinta

Eh, hidup itu kadang berat banget ya. Ada saat dimana kita benar-benar dipenuhi masalah. Diuji dengan cobaan yang bertumpuk-tumpuk. Dari berbagai arah. Merasa dunia ini enggak adil, merasa kok kayaknya begini amat atau begitu amat. Seperti aku sekarang, merasa lemah, enggak berdaya, terdzolimi entah oleh siapa, dan enggak tahu harus marah kepada siapa. Enggak tahu harus mengeluh kepada siapa lagi, selain melampiaskannya kepada bunda.

***

“Allah itu Maha Penyayang kok, sayang. Selalu. Tak pernah tidak. Hanya saja, tidak semua orang bisa mengerti bahasa kasih sayang itu. Hanya saja tidak semua orang memahami, bahwa kasih sayang tidak selalu berwujud nikmat; terkadang cobaan, ada kalanya dalam bentuk pengingatan, bahkan sesekali dalam bentuk kehilangan.”

Ya Allah, bunda tenang banget jawabaya. Pake senyum segala lagi. Padahal, tadi aku cerita dengan meledak-ledak, ingin mendapat pembelaan bunda, pembenaran bunda. Cukup membuatku lebih terkendali.


“Barangkali, tak ada kata yang lebih pantas untuk menggambarkan suatu cobaan selain kasih sayang. Kitanya saja yang terkadang tidak mengerti kasih sayang Allah itu, bahkan tidak sedikit dari kasih sayang itu yang kita tolak mentah-mentah, membalasnya dengan keluh kesah.”

“Dan setiap kasih sayang harus dibalas dengan balasan yang sebaik-baiknya, menyesuaikan dengan bentuknya masing-masing, dengan bahasanya masing-masing. Jika bentuknya nikmat, balasannya adalah syukur. Jika cobaan, balasannya ya sabar. Sedangkan kehilangan harus dibalas dengan penerimaan. Tak ada balasan terbaik selain itu. Dengan begitu, kita bisa lebih memahami dan merasakan kasih sayang Nya. Dan adakah yang lebih beruntung selain mereka yang bisa berkasih sayang dengan-Nya?”

“Bagaimana cara bersabar dan bersyukur yang baik, bunda?”
“Membiasakan diri untuk bersabar dalam kesyukuran dan bersyukur dalam kesabaran”

“Maksudnya, Bun?”

“Nak, terkadang kita suka sekali memisahkan antara sabar dan syukur.  Seolah-olah bersabar hanya ketika kita mendapatkan musibah atau cobaan dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat. Padahal, sabar dan syukur itu harus selalu beriringan. Kita harus bersabar ketika mendapatkan musibah, lalu bersyukur karena Allah masih berkenan menguji kita, berkenan melihat kita lebih kuat lagi, berkenan menyayangi kita dengan memperhatikan kita melalui cobaannya, berkenan untuk lebih banyak mendengarkan doa-doa kita. Begitu juga ketika kita mendapatkan nikmat, harus bersyukur tapi jangan lupa untuk bersabar. Bersabar, agar nikmat itu tidak membuat kita menjadi ingkar, bersabar karena siapa tahu itu bukan sebenar-benarnya nikmat, tapi ujian untuk melihat seberapa syukur kita, ujian apakah kita benar-benar bisa mencintai dan mengingatNya dalam setiap kondisi.


***

Suatu hari, forum malaikat berdiskusi perihal makhluk paling baik di muka bumi pada zaman itu. Adalah Ayyub, nama yang disepakati oleh para malaikat. Iblis tidak terima, menuduh sembarangan bahwa ketaatan Ayyub, ibadahnya, hanya dikarenakan untuk menjaga hartanya, agar hartanya semakin banyak. Sekedar berterimakasih karena diberikan anak, keluarga juga kedudukan yang mulia. Maka, iblis meminta izin kepada Allah untuk menggoda Ayyub, untuk membuktikan bahwa Ayyub tidak sebaik seperti yang dibicarakan para malaikat itu.

Lantas, iblis mengambil harta Ayyub, menjadikannya manusia semiskin-miskinnya. Ayyub masih beribadah kepada Allah, bahkan dengan ketaatan yang meningkat. Diambilnya anaknya, Ayyub juga tidak bergeming, malah semakin bertambah kesabaran dan ketaatannya. Diberikan penyakit yang menghinakan, juga tidak bergeming sedikitpun keimanannya. Digoda setan melalui isterinya, tetap bisa selamat. Lantas, Allah mengembalikan apa yang pernah dimiliki Ayyub dengan pengembalian yang  jauh lebih baik lagi. Balsan atas kesabaran dan keimanannya. Balasan atas cintanya kepada Allah. Kata Ayyub sebelumnya, menjawab godaan-godaan iblis; Allah yang memberikan, Allah juga yang berhak mengambil. Allah yang menghidupkan, Allah juga yang berhak mematikan. Allah yang memberikan kebaaikan dan keburukan.  Allah yang memberikan ridho dan Allah juga yang memberikan murka.


***

“Udah dong, Putri jangan cemberut lagi. Boleh bunda minta senyumnya?”

***

Senyum? Aku baru mengetahui keajaibannya, ketika mendengar penjelasan salah satu dosen di bangku kuliah. Tentu saja bukan sekedar membuat wajah lebih manis dan lebih cantik. Walaupun bunda selalu nampak lebih cantik dan lebih muda (ups) kalau sedang tersenyum.  

Adalah Wayne State university, yang iseng melakukan penelitian terhadap 230 gambar pemain liga bisbol itu. Sengaja untuk membuktikan kalau senyuman akan membuat seseorang panjang umur. Dan terbuktilah omongon orangtua kita tentang senyuman memperpanjang usia itu. Bahkan penelitian itu juga menjelaskan lebih rinci sampai bentuk senyumannya.  Hasilnya, mereka yang masuk katagori tanpa senyum hidup dengan usia rata-rata 72.9 tahun; mereka yang tersenyum parsial memiliki angka harapan hidup 75 tahun dan mereka yang tersenyum paling lebar memiliki angka harapan hidup 79 tahun.Jangan coba-coba untuk memberikan senyuman palsu. Percuma. Karena penelitian ini juga membuktikan senyuman palsu (yang terlihat dari tanda-tanda di gambar) tidak memperpanjang usia seseorang.

Penelitian lain juga membuktikan senyum menghasilkan endorphins, pereda rasa sakit alami di dalam tubuh. Buat kalian yang sedang sakit, sering-seringlah tersenyum. Dan kabar baiknya, Berdasarkan hasil survei The Smiling Report, Indonesia adalah negara paling murah senyum di dunia


***

Aku malah menjawab permintaan senyum bunda dengan muka yang jauh lebih cemberut. Sengaja dibuat-buat. Nakal sekali. Dan seperti biasa, kalau sudah begitu bunda akan pura-pura marah, menarik pipiku yang sedang tembem. Lalu kami tertawa bersama.  


#diorama

Limit

Kalian pernah merasa jenuh dengan suatu rutinitas? Melakukan hal yang sama, begitu-begitu saja, jauh banget dari semangat, membosankan, bahkan jika dibolehkan; ingin lari saja dari rutinitas itu. Jangan bilang untuk mengembangkan diri di sana, bertambah ini, bertambah itu, mendapatkan ini mendapatkan itu. Untuk bertahan saja rasanya sulit sekali. Belum lagi kalau udah enggak begitu nyaman dengan beberapa orang yang ada di dalamnya. Belum lagi kalau ada tuntutan ini itu yang menumpuk.  Belum lagi, urusannya masih banyak lagi. Benar-benar ada di limit kemampuanku.

***

“Putri yang sabar dong, Nak.”
“Bunda, kesabaranku udah habis.”
“Kesabaran itu enggak ada habisnya, sayang.”
“Tapi, Putri udah enggak kuat lagi Bunda.”
“Kalau begitu, untuk hal ini Putri enggak sabar.”

“Eh, Iya juga ya, Bun. Habis gimana dong?”

“Bisa jadi salah satu cara terbaik untuk memperbesar kemampuan kita adalah dengan mengambil tanggungjawab yang lebih besar. Catatannya, kita harus benar-benar sadar, dengan kesadaran yang sesadar-sadarnya atas resiko dan konsekuensi dari tanggungjawab itu. Agar tanggungjawab itu benar-benar membuat kita lebih bertanggungjawab, bukan malah sebaliknya. Mungkin, Putri hanya baru sekedar mengambil tanggungjawab, tapi lupa untuk memikirkan segala konsekuensinya di awal, jadinya banyak yang terlalaikan.” Aih si bunda,  orang lagi pusing kok malah disuruh menambah tanggungjwab.

“Tapi kan Bunda sendiri yang pernah bilang, kalau Allah selalu memberikan beban sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.”

“Iya, bener. Bukan manusia namanya jika tidak punya keterbatasan. Tapi bukan berarti dengan begitu, kita hanya pasrah untuk menerima kemampuan itu apa adanya. Allah memberikan kita keleluasaaan untuk mencari tahu sendiri  dan mengukur seberapa besarbatas kemampuan itu. Bahkan kita diberikan hak untuk memperbesarnya, terus meningkatkannya. Lagipula, batas itu hanya bisa kita ketahui kalau kita sudah berusaha dengan sesunggh-sungguhnya, kalau kita sudah berusaha dengan sehabis-habisnya. Itulah batas kemampuan maksimal kita. Dan dari batas itulah Allah akan menyesuaikan beban, amanah, sekaligus tanggungjawab kita. Makanya, Putri jangan ngomong kemampuannya terbatas dulu, padahal belum melakukan apa-apa, padahal kerjanya masih biasa-biasa saja, padahal masih belum sungguh-sungguh menjalaninya.”

"Ya, bunda kenapa baru bilang sekarang sih, kok telat banget Putri tahu konsep yang begitu?"

"Tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan sayang, karena suatu kebaikan, sekecil apapun kebaikan itu, selalu punya nilai tersendiri dihadapan Allah. Bahkan bisa jadi, kebaikan yang terlambat itu jauh lebih bernilai karena mengandung kebaikan lain dari proses perubahannya."

"Maksudnya, Bunda?"

"Kamu tahu salah satu keuntungan orang yang memiliki kesalahan, bahkan kesalahan yang paling fatal sekalipun?"

"Apa itu, Bunda?" 

"Bisa jadi mereka lah orang yang bisa benar-benar menikmati indahnya taubat, indahnya perubahan  ke arah yang jauh lebih baik lagi. Sedangkan, orang yang selalu merasa sudah melakukan kebaikan, padahal kebaikannya maih sangat sdikit, sulit sekali merasakan sensasi taubat yang sesungguh-sungguhnya taubat. Terjebak dalam rutinitas kebaikan itu sendiri, tanpa menyadari untuk apa kebaikan itu. Lupa, bahwa kebaikan sekecil apapun harus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya. Makanya, sebaik apapun diri kita, jangan pernah meremehkan mereka yang lebih buruk daripada kita. Bisa jadi, keburukan itulah yang suatu saat membuatnya melakukan kebaikan yang jauh lebih besar daripada apa yang pernah kita lakukan.”

***

Tahun itu adalah tahun yang paling membahagiakan bagi si tukang sepatu. Pasalnya, setelah 30 tahun mengumpulkan uang untuk berangkat haji bersama isterinya, tahun itu genap sudah tabungannya untuk memberangkatkan mereka berdua ke tanah suci. Mulia sekali niat itu, walaupun dengan segala keterbatasan yang dimilikinya sebagai tukang sepatu.

Suatu hari isterinya tergoda untuk meminta makanan dari tetangganya, karena mencium bau harum dari masakannya, tapi kaget mendengar jawaban tetangganya;

“Tetanggaku yang baik, makanan ini tidak halal bagimu. Daging yang kami masak adalah bangkai yang kami temukan di jalan. Kami tidak tega melihat anak-anak kami kelaparan. Kami sudah banting tulang mencari makanan yang lebih baik, tapi kami tidak menemukannya. Akhirnya hanya bangkai ini yang kami temukan, lalu kami masak biar anak-anak dan keluarga kami tidak semakin menderita."

Di rumah, isteri tukang sepatu menceritakan kepada suaminya tentang kondisi tetangganya. Tanpa berfikir panjang, si tukang sepatu memberikan semua tabungan hajinya kepada tetangga yang dimaksud. Perbuatan mulia yang membuat bukan saja mereka berdua yang diterima hajinya (padahal mereka tidak jadi berangkat), tapi juga membuat seluruh ibadah haji umat muslim pada tahun itu diterima Allah. Adalah Abdullah bin Mubarrak, perantara yang ditunjuk Allah untuk memberikan kabar bahagia tentang tukang sepatu itu melalui mimpinya.

***

Aku merenung sejenak, mengingat cerita ayah di atas, agak kaget dengan penjelasan bunda selanjutnya.

“Nak, terkadang kita sering tertukar untuk menentukan sebuah limit, sebuah batas. Menggunakan batas maksimal nikmat untuk bersyukur, dan menggunkan batas minimal musibah untuk bersabar. Manusia baru bersyukur ketika mendapatkan nikmat yang sangat besar, tapi sudah mengeluh dengan musibah yang begitu kecil. Padahal seharusnya, kita harus tetap bersyukur atas nikmat sekecil apapun, dan berusaha sesabar mungkin untuk musibah sebesar apapun.”

“Bagaimana caranya bersabar, Bunda?”

“Sabar adalah berkusnudzon padaNya, yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Dia selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya, seadil-adilnya. Walaupun terkadang, kita tidak tahu dimana letak keadilanNya. Walaupun terkadang, kita harus membuktikan sendiri bentuk keadilanNya.

“Sabar adalah kita tetap di sini, berusaha bertahan sekuat mungkin dengan kebaikan bersama pagi, siang, sore dan malam. Sabar adalah menunggu sambil berusaha juga berdoa. Tidak dengan diam tapi dengan pemahaman; bahwa terkadang, Allah menunda apa yang tidak baik bagi kita saat ini untuk ditukar nanti di waktu terbaik , waktu dimana kita benar-benar sudah siap atau waktu dimana kita benar-benar nembutuhkannya. Sabar adalah berusaha untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara, mengendalikan diri untuk tidak sombong menunjukkan kelebihan kita diantara kekurangan orang lain. Sabar adalah berlari sejauh-jauhnya dari segala keluh kesah, dari penyesalan yang berlebihan, dari kekecewaan yang terlalu, dari tuntutan yang tidak sepantasnya, atau dari sesuatu yang tak bertanggungjawab.

“Aduh, susah sekali, Bunda. Mana yang lebih berat buat bunda?”

“Sabar bagi bunda adalah menjaga keluarga, benar-benar menghormati ayah, membalas kasih sayangnya dengan segala bakti, juga mencintai anak-anak dengan kasih sayang yang berkecukupan. Dan tentu saja, meladeni segala pertanyaan dan keluh kesah Putri.”

Bunda tersenyum nakal.  Aku cuma cemberut, pura-pura kesal, padahal dalem banget. Lalu, kami tersenyum bersamaan. Tulus.


#diorama

Dua Aku

Satu hal yang paling aku sukai dari orangtuaku adalah mereka hampir selalu melibatkanku dalam memutuskan hal-hal yang bersifat keluarga, apalagi jika hal itu penting banget untuk hidupku. Dari hal yang sifatnya pendidikan, tentang sekolahku atau adikku, tentang karier mereka di pekerjaan, tentang liburan keluarga, sampai hal remeh-temeh besok enaknya menu apa yang akan dimasak untuk makan malam.

Untuk hal-hal tertentu yang kami belum ngerti banget kondisinya, Ayah dan Bunda kompak banget untuk memahamkan anak-anaknya kenapa keputusan atau pilihan itu yang diambil. Setidaknya, kami tetap didengarkan dan dimintai pendapatnya. Bahkan untuk beberapa hal, kami sekeluarga suka rame untuk memutuskan sesuatu. Kadang juga, ayah dan bunda berlomba-lomba untuk mencari dukungan anak-anaknya, ketika mereka berbeda pendapat untuk beberapa hal. Nah, aku pernah nanya ke Bunda kenapa harus seperti itu, harus repot-repot melibatkan kami;

“Karena, ayah dan bunda ingin membesarkan kalian dengan cinta.”
“Lha, apa hubungannya Bunda?”
“Putri tahu, apa itu cinta?”
“Tahu sih, Bun. Tapi untuk kondisi begini Putri enggak ada ide. Emang apa itu cinta, Bunda?”
“Cinta, adalah hubungan yang mesra antara dua aku yang berbeda.” *

“Maksudny, Bun?”
“Maksudnya, belum bisa dikatakan cinta kalau kita hanya melibatkan satu aku. Kalau Ayah dan bunda memutuskan sesuatu untuk keluarga, tapi tidak melibatkan kamu dan adikmu sebagai anak, berarti keputusan itu hanya melibatkan satu aku saja. Hanya akunya orangtua belum akunya anak-anak. Padahal dalam keluarga kan ada orangtua dan anak. Begitu juga kalau suatu saat nanti, Putri menjadi pemimpin. Baiknya, melibatkan dua aku. Akunya pemimpin dan akunya orang yang dipimpin.”

“Emang harus kayak gitu ya, Bun?”
“Enggak sayang, kan tadi bunda bilang sebaiknya, bukan harus. Bahkan ada kondisi-kondisi tertentu yang tidak memungkinkan kita menjalin hubungan dua aku tadi. Entah karena kondisinya yang darurat, atau karena alasan lain yang memang tidak memungkinkan untuk itu. Yang pasti, hubungan dua aku tadi akan sangat mempengaruhi keberhasilan sebuah keputusan.”

“Kenapa begitu, Bunda?”
“Karena, dengan hubungan yang baik dua aku tadilah kasih sayang dan kepercayaan itu akan muncul. Masing-masing akan berusaha untuk saling menghormati antar aku, menghargai pendapatnya, mengetahui pandangan-pandangannya, mengetahui baik-buruknya, sama-sama saling tahu. Dengan begitu, rasa kepemilikan dan tanggungjawab juga akan lebih mudah terbentuk. Secara sadar atau tidak, masing-masing akan saling belajar untuk tidak egois, untuk mencoba mengetahui apa yang orang lain pikirkan dan rasakan.”

“Oh, begitu ya, Bun?”
“Iya, contohnya lagi, banyak pemimpin yang mengaku mencintai rakyatnya, padahal orang itu tidak mencintai siapa-siapa selain dirinya sendiri. Melakukan ini itu dengan alasan kepentingan rakyat, padahal tidak benar-benar tahu apa sesungguhnya kebutuhan rakyat. Inilaah contoh pemimpin yang egois untuk hanya mengedepankan akunya diri sendiri atau akunya golongannya saja. Pantas, jika kepemimpinannya kurang diterima oleh rakyatnya. Padahal, sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya, yang mendoakan dan didoakan rakyatnya.”


***

Adalah Ibrahim, bapak para nabi, salah satu generasi pendahulu yang mengajarkan bagaimana caranya menghormati cinta. Sebelum dirinya berencana untuk menghancurkan berhala, yang sudah jelas-jelas salah, syirik dan dosa besar pula. Ia tetap bertanya kepada ayahnya yang berprofesi sebagai pembuat berhala, perihal kenapa kita harus menyembah berhala yang bahkan untuk dirinya sendiri saja berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa. Apa juga untungnya bertanya, toh dirinya sudah tahu betul kejahiliahan kaumnya waktu itu dengan menyembah berhala. Tapi Ibrahim, ingin menghormati ayah yang dicintainya, ingin mendengarkan apa pendapat orang yang dicintainya. Walaupun, jawaban itu sama sekali tidak memuaskan Ibrahim. Toh dalam sejarah, Ibrahim tetap menghancurkan berhala itu. Tapi setidaknya, Ibrahim sudah menjalankan kewajiban cintanya, kepada ayahnya sekaligus kepada Allah.

Anaknya yang bernama Ismail lah yang beruntung menangkap pesan penghormatan cinta itu, ketika puluhan tahun kemudian dirinya ditanya oleh Ayahnya:

“Wahai anakku, semalan ayah bermimpi, dan dalam mimpi itu ayah diperintahkan Allah untuk menyembelihmu. Bagaimana menurutmu, anakku?”
Kenapa pula harus bertanya pendapat Ismail, jika itu sudah jelas-jelas perintah Allah langsung yang harus dilaksanakan dan tidak layak untuk dibantah. Sekali lagi, Ibrahim ingin menghormati anak yang dicintainya, tidak sekedar mencintai Tuhannya. Ah, bukankah mereka yang mengaku cinta kepada Allah seharusnya juga mencintai makhluk-Nya, mencintai kemanusiaan yang ada pada sesama. Maka, Ibrahim memang layak mendapatkan jawaban cinta dari Putra yang akan disembelihnya itu:

“Ayah, Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Insya Allah, saya akan sabar dan patuh terhadap perintahNya. Tolong, nanti saya diikat kuat-kuat agar tidak merepotkan ayah ketika disembelih. Jangan sampai juga meninggalkan darah di pakaian saya, khawatir itu akan membuat ibu semakin sedih. Tolong sampaikan salam saya kepada ibu.”

***

Cinta adalah hubungan yang mesra antara dua aku yang berbeda.* Itulah jawabannya; jawaban yang menjelaskan kenapa bunda begitu sabar mendengarkan segala keluh kesahku di forum perempuan, jawaban atas pertanyaan enaknya yang mana ya, Nak? Menurut Putri gimana? Kalo begini saja enggak apa-apa? yang itu biar Putri aja yang ngurusin ya, atau mau dibantu sama bunda? Putri, coba deh bantuin adekmu itu, masa dari tadi enggak selesai-selesai. Gimana kata Ayah, ada masalah dengan itu? Eh, Putri gpp kan kalau jatahnya dibagi dua.

Aduh, kenapa baru sadar ya. Makasih Bunda....


#diorama

Kesalahan

Jujur ya, aku paling enggak suka banget sama orang-orang yang kurang peka. Udah gitu susah banget lagi buat diingetin. Enggak sadar-sadar. Tega melihat teman-temannya terdzolimi karena kesalahannya. Karena tugasnya yang enggak beres-beres. Suka banget buat alasan ini itu yang seolah-olah dibuat-buat dan dibenar-benarkan, dan lagi merasa sudah selesai hanya dengan permintaan maaf. Padahal, maaf tidak selalu bisa menyelesaikan masalah. Udah gitu lagi nih ya, belakangan ini aku banyak banget nemuin orang-orang model begini. Enggak tahu lagi gimana harus membasminya. Lengkap sudahlah penderitaan. Bundaaaaaaaaaaaaa .....

***

“Bunda, gimana sih cara menasihati yang baik itu? Kok ada temen-temen Putri yang susah banget ya, buat diingetin. Diginiin enggak mempan, digituin sama saja. Enggak nyadar-nyadar gitu, Bun.” Aku bertanya kepada bunda setelah menjelaskan semuanya. Panjang dan detail sekali aku menjelaskan, sekaligus menumpahkan segala kekesalanku. Asiknya, si bunda setia betul mendengarkan aku. Tak ada satu katapun yang terlewat dari perhatiannya.

“Sebagian besar orang lebih senang didengarkan daripada dinasihati. Kalaupun kita harus menasihati seseorang, tujuannya untuk memperbaiki orang tersebut, karena kita sayang sama orang yang kita nasihati. Kita ingin agar orang yang kita nasihati itu lebih baik, kita tidak mau membiarkannya dalam keburukan. Coba deh, Putri tanya lagi ke diri sendiri, apa tujuan Putri menasihati temennya. Apa bener-bener untuk kebaikan dan perbaikan temennya atau jangan-jangan nasihat itu, masukan itu, hanyalah salah satu ekspresi kekesalan dan kekecewaan Putri terhadap orang yang dingatkan. Bukan demi kebaikan orang tersebut, tapi lebih kepada kebaikan Putri, agar tugas Putri bisa selesai lah, agar Putri enggak direpotkan lagi lah.”

“Kita boleh saja mengaku sayang kepada siapapun, mengaku cinta demi apapun, dengan sesayang-sayangnya, dengan secinta-cintanya. Tapi, tidak ada bahasa cinta yang lebih nyata selain bahasa amal, dengan perlakuan. Maka sebenernya, seberapa sayang kita kepada seseorang hanya bisa benar-benar dibuktikan dengan bagaimana kita memperlakukan orang tersebut. Tentu saja selain niat yang terkandung di dalamnya.”

“Coba Putri inget-inget lagi, selain menasihati apa yang sudah Putri lakukan pada temen Putri tadi? Sudah pernah bertanya kendalanya apa, dimana susahnya? Sudah pernah menawarkan bantuan, apa yang bisa Putri lakukan untuk meringankan bebannya? Sudah pernah mencoba untuk mendengar keluh kesahnya?


Deg,  aku langsung speechless dengar penjelasan bunda. Baru sadar kalau selama ini aku egois banget. Pertanyaan bunda dalem banget. Tapi aku cuma bisa diam, enggak bisa jawab. Tentu saja bunda sudah mengerti kalau diamku adalah pengakuan kesalahan. Bunda hafal banget deh sama gelagatku yang satu ini. Kalau sudah begitu, biasanya bunda akan memperhalus suaranya:


“Nak, banyak sekali orang yang merasa sudah cukup dengan menasihati, merasa kewajibannya untuk menyampaikan kebaikan sudah gugur dengan menasihati. Padahal, tugas kita bukan hanya menyampaikan kebaikan dan kebenaran, tapi juga memastikan agar orang lain mengerti tentang kebaikan itu, menerimanya, dan tentu saja melakukannya.”

“Ada juga yang sebelum menasihati, hati dan sikapnya terlanjur menjustifikasi kalau dia begini lah, begitu lah. Padahal hanya perkataan yang berasal dari hati yang akan sampai ke hati. Bagaimana nasihatnya akan sampai jika nasihat itu adalah keluhann, ketidaksukaan, kekesalan atau kekecewaan kita.  Lagipula, kita bukan hakim yang bisa menjustifikasi kesalahan seseorang. Bisa jadi dia memang salah di suatu kondisi, tapi bisa jadi di sisi lain, yang bersangkutan lebih benar dan lebih baik daripada kita. Misalkan, ada temen Putri yang jarang ikut acara di organisasinya, tapi ternyata dia rajin banget membantu orangtuanya bekerja, membantu menghidupi adik-adiknya. Dalam hal organisasi Putri mungkin lebih baik, tapi dalam bakti kepada orangtua, bisa jadi Putri kalah jauh sama temennya yang tadi. Bahkan bisa jadi secara keseluruhan, Putri jauh kurang peka daripada orang yang dimaksud. Bayangkan, diantara kesibukan beliau membantu keluarganya, masih sempat-sempatnya beliau membantu Putri dan temen-temen di organisasi. Walaupun bantuan itu masih belum optimal. Tapi Putri, pernahkah menyempatkan diri membantu keluarganya yang  kesusahan.”

“Terkadang, kebenaran dan kebaikan itu tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Kita harus melihat dari beberapa sisi agar bisa menangkapnya dengan utuh, agar bisa menyikapinya dengan perlakuan yang sebijak-bijaknya. Dengan sikap yang setepat-tepatnya. Tidak melulu hanya dari sisi kita. Dan yang paling penting, kita tidak selalu benar. Makanya, kita tidak boleh selalu merasa yang paling benar. Makanya juga, kita diharuskan untuk berkhusnudzon, berprasangka baik kepada yang lain.”

***

Wajah itu masih saja tersenyum, sambil tangannya menyuapi orang buta yang ada dihadapannya. Tulus sekali. Telinganya dengan sabar mendengarkan segala cacian, hinaan, yang ditujukan orang buta tersebut kepada dirinya. Itulah salah satu keajaiban kemanusiaan yang tercatat dalam sejarah.

Adalah Abu Bakar, saksi yang menggenapkan keajaiban itu. Setelah rasulullah meninggal, dan dirinya menjadi khalifah, ia bertanya kepada Aisyah, anaknya yang menjadi isteri rasulullah tentang kebiasaan rasulullah semasa hidupnya yang belum dilakukan oleh dirinya sebagai khalifah. Kata Aisyah, rasulullah rutin menyuapi seorang yahudi buta yang ada di salah satu pinggiran jalan kota.

Abu Bakar ingin menggantikannya. Maka datanglah Abu Bakar pada yahudi buta itu. Sambil menahan marah, karena Abu Bakar mendengar secara langsung cacian dan makian untuk rasulullah, Abu Bakar tetap menyuapinya. Yahudi buta itu langsung sadar, kalau orang yang ada di hadapannya bukanlah orang yang biasa menyuapinya. Ada yang berbeda dengan makanan yang dimakannya, walaupun makanannya sama. Makanan itu terasa lebih keras, karena Abu Bakar tidak menghaluskannya (memamahnya) terlebih dahulu seperti yang rasulullah lakukan. Abu Bakar menangis begitu juga Yahudi buta itu, setelah mengetahui bahwa orang yang selama ini menyuapinya sama dengan orang yang selama ini dicaci dan dimaki oleh dirinya sendiri, dihadapan orangnya langsung Pula. Keajaiban itu, ditutup dengan syahadat dari yahudi buta.

Di hari yang lain lagi, waktu rasulullah masih hidup, ketika sedang berjalan, kaki beliau tersandung batu, sendalnya putus dan ada jarinya yang berdarah. Kalian tahu, waktu itu rasul enggak pernah nyalain batu, enggak pernah juga bertanya siapa yang membuat batu sebesar itu ada di tengah jalan. Beliau hanya duduk di batu yang lebih besar, dan bertanya:Ya Allah, apa kesalahan yang saya lakukan, sehingga Engkau menegurku dengan cara seperti ini.

***

Itu salah satu cerita Ayah di forum keluarga. Ayah memang suka sekali bercerita tentang ini itu. Salah satunya tentang sejarah orang-orang hebat terdahulu, yang bisa diambil hikmahnya. Awalnya aku sempat bingung, kenapa cerita-cerita ayah suka nyambung dengan masalah yang aku hadapi. Eh ternyata si bunda yang suka laporan ke Ayah kalau aku lagi punya masalah ini dan itu. Sukanya, ayah tidak ribut-ribut membahas masalah ini dan itu. Bercerita saja, dan kami akan menyimpulkan sendiri maksud ceritanya. Dan sepanjang ayah bercerita, aku hanya tertunduk. Malu sekali. Di seberangku, bunda menatap aku, mengangguk pelan, dan tersenyum. Manis sekali. Ekspresi bunda yang itu, kalau diterjemahkan dengan kata-kata, artinya kurang lebih seperti ini:


“Enggak apa-apa, sayang. Masih bisa diperbaiki kok. Tapi jangan diulangi lagi.”

#diorama

Cinta Segi Lima

“Ayah, mana yang lebih ayah cintai, bunda atau anak-anak bunda?” sengaja betul Kak Putri menggoda ayah dan bunda di malam itu, malam ulang tahun pernikahan mereka.

“Ayah sayang kalian semua, Putri. Bunda, dan anak-anak ayah.”
“Aduh, ayah. Kak Putri kan nanyanya yang lebih, berarti jawabannya kami atau bunda. Bukan semuanya.”  kali ini aku kompak dengan kak Putri, menggoda mereka. Sebenarnya kami sudah tahu jawabannya. Ya pasti bunda lah ya, bunda kan udah lama banget hidup sama ayah. Udah merasakan kebahagiaan dan penderitaan bersama-sama. Kami hanya ingin mendengarkan kalimat itu langsung dari ayah.

“Ayo, makan dulu.” Bunda yang juga ada bersama kami berusaha mengalihkan suasana, tapi kak Putri tetep ngotot.
“Jawab dulu, Ayah.”
“Iya deh, ayah jawab.” Ayah diam sejenak kami semua khidmat menanti jawaban ayah. Kak putri udah senyum-senyum aja.
Siapa, Ayah? Siapa?” Aku pura-pura enggak sabaran

“Tentu saja, ayah lebih mencintai anak-anak ayah daripada bunda. Lebih mementingkan anak-anak. Iya, kan Bunda?”

“Hah?” Aku dan kak Putri cuma melotot kaget, bunda tidak menjawab, mukanya sedikit cemberut. Cemburu, lucu sekali melihatnya.

“Kalian tahu, apa hal paling penting yang harus dilakukan seorang ayah demi anak-anaknya?
“Apa emang ayah?”

“Mencintai ibu mereka dengan cinta yang setulus-tulusnya, dengan cinta yang sebenar-benarnya cinta. Sayangnya, tak akan ada cinta yang setulus-tulusnya itu, yang sebenar-benarnya cinta itu,  tanpa dilandasi cinta kepada Allah. Karena sejatinya, ketulusan dan kebenaran itu hanya ‘berkiblat’ kepada Allah.” Aih, wajah si bunda langsung merona merah, walaupun ditahan-tahan. Lebih lucu daripada sebelumnya. Kami malah bingung dengan kata-kata Ayah.

“Maksudnya, Yah?”

***

Sekian belas abad silam, tersebutlah wanita sederhana nan mulia bernama Ummu Sulaim. Adalah Abu Talhah, pria paling kaya diantara kaumnya, yang sangat ingin menikahi janda yang mulia itu. Sayangnya, mereka berbeda akidah. Sedangkan bagi Ummu Sulaim, tak ada pernikahan dengan akidah yang berbeda. Karena cintanya terhadap Ummu Sulaim, Abu Talhah berpindah akidah. Mereka menikah dengan mahar paling indah yang tidak akan pernah dilupakan oleh penduduk langit; syahadat untuk keislaman Abu Talhah.

Merekalah, pasangan yang diabadikan di salah satu ayat Allah, karena bersedia menjamu tamu padahal waktu itu mereka hanya punya makanan yang cukup untuk keluarga sendiri (semenjak masuk islam, hampir seluruh kekayaan Abu Talhah dibagi-bagikan). Akhirnya, anaknya hanya dikasih minum dan ditidurkan, sementara suami-isteri itu hanya pura-pura makan. Yang benar-benar makan hanya para tamu saja.

Suatu hari, anak kesayangan mereka meninggal. Waktu itu, sang ayah sedang di masjid. Sepulangnya dari masjid, Abu Talhah mencari-cari anaknya. Kata isterinya, anaknya baik-baik saja. Seolah tidak terjadi apa-apa; malam itu Ummu Sulaim benar-benar melayani suaminya dengan pelayanan yang sebaik-baiknya. Esoknya, setelah suaminya lebih tenang. Ummu Sulaim bertanya kepada suaminya:

“Wahai suamiku, bagaimana menurutmu jika ada yang menitipkan barang kepadamu dan pemiliknya mengambilnya. Haruskah kita mengembalikannya, padahal kita sudah terlanjur suka dengan barang itu.”

“Iya, kita harus mengembalikannya. Itu bukan hak kita.”
“Suamiku, sesungguhnya, anak kita adalah titipan Allah. Dan Allah sudah mengambilnya dari kita.”

Lalu, dalam sejarah peradaban islam. Kedua pasangan itu, tercatat memiliki tujuh anak yang semuanya hafal keseluruhan Al-Quran.

***

Itu cerita ayah menjelaskan maksud kata-katanya tadi. Jika masih belum mengerti benar, begini kira-kira tambahannya. Bunda memiliki intensitas yang lebih banyak daripada ayah untuk mengurus dan mendidik anak-anaknya, bahkan darah dan genetikanya tersalur langsung melalui air susu ibu. Biasanya, peran bunda juga lebih besar dalam membangun pemahaman dan karakter anak-anaknya. Nah, kalau bunda tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ayah, ribut melulu sama ayah, terus mental dan psikologisnya enggak stabil, bisa dibayangkan apa efeknya buat anak-anak. Anak-anak tidak akan mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan pendidikan yang cukup dari orangtuanya.

Makanya, mereka yang kurang beruntung karena memiliki keluarga yang broken home,memilki peluang yang lebih besar untuk  menjadi anak yang kurang baik, melakukan penyimpangan sebagai pelarian. Itu pentingnya, ayah harus benar-benar mencintai bunda. Semakin besar cintanya, semakin besar juga perhatian dan kasih sayng bunda untuk anaknya, semakin baik juga perkembangan anaknya. Dan tentu saja, hanya mereka yang mendapatkan cinta yang berkecukupan, yang bisa menebarkan cinta kemanusiaan pada sesama.

Kalau masih belum ngerti juga, coba kita lihat kondisi kita sekarang. Indonesia, sebagai negara dengan muslim terbesar di dunia, memiliki angka perceraian mencapai dua ratus ribu pertahun dari dua juta angka pernikahan. Sepuluh persen. Artinya, dari seratus orang yang menikah, sepuluh orang diantaranya yang bercerai. Angka tertinggi diantara negara mayoritas muslim lainnya. Uniknya lagi, sebagain besar yang meminta perceraian itu adalah isteri, bukan suami. Tentu saja, karena suami dirasa masih belum bisa memberikan kasih sayang, cinta dalam berbagai macam bentuknya.

Kira-kira begitulah hubungan cinta segi lima. Cinta yang saling berkaitan antara ayah, bunda, anak-anaknya, masyarakat, dan tentu saja Allah. Masih belum nyambung juga? Capek deh. :D

***

“Ayah, bagaimana cara kita mendapatkan pasangan yang baik?” Tanya kak Putri, setelah mendengarkan cerita ayah

“Laki-laki yang baik hanya diperuntukkan bagi perempuan yang baik. Begitu sebaliknya. Karenanya, tidak ada hal yang lebih utama bagi laki-laki atau perempuan yang belum menggenapkan agamanya, selain menjaga dan memperbaiki diri dengan sebaik-baiknya. Bagi ayah dan bunda yang sudah menikah?  Sama saja. Bedanya, tanggung jawab kami lebih berat, karena harus mendidik kalain juga, sehingga usaha perbaikannya juga harus lebih keras.”

***

Perayaan ulang tahun pernikahan itu selesai setelah makan-makan, pemberian hadiah kepada ayah-bunda, cerita ini itu tentang masa lalu dan masa depan keluarga. Malam ini, bunda lebih banyak diamnya. Mungkin masih terpesona dengan kata-kata ayah sebelumnya. Kami masuk ke kamar masing-masing. Katanya, ayah dan bunda ingin melanjutkan merayakan ulang tahun pernikahannya berdua saja. Ehm. Ehm. Maksudnya, mau saling mengevaluasi setelah sholat berjamaah dan berdoa bersama. Sebelumnya, aku membantu kak Putri membereskan ruang keluarga. Mengambil kertas berhiasan indah yang tertinggal, yang kak Putri sengaja buat untuk disertakan pada kado ulang tahun pernikahan ayah dan bunda, tulisannya:

“Ayah, Bunda; kami mencintai kalian karena Allah.”


#diorama

Sirah Sahabat

Sungguh indah membaca kisah parah sahabat.
Ia bisa berhasil dalam urusan dunia dan akhiratnya.
Tidak pernah perhitungan dalam kebaikan.
Selalu yakin akan janji Alloh yang Maha Baik.
Membaca kisah ini membuat kita meyakini bahwa
Takdir Alloh adalah yang terbaik.
Dan orang-orang yang menolong agama Alloh,
Alloh akan mudahkan urusannya.
Semangat karena Alloh :)

Curhat Para Ibu2 :)

Ini curhatan temen2 yang udah menggenap tentang impian-impian yang ia ingin lakukan :)

"Setuju sama melinda. Setelah nikah jd lbh rasional. Aku punya banyak mimpi tp impian utama aku adalah keluarga yang mampu mengeksplorasi dan mengembangkan potensinya maksimal. Keluarga yang hangat dan penuh cinta. Ceileh. Jadi rela menyokong penuh suami untuk mencapai 'perkembangannya' sebelum I achieve more. Ngalah untuk ga sekolah dulu sebelum suami settle bisnisnya karena merintis bisnis itu penuh perjuangan, dan butuh dukungan istri untuk terus menyemangati, butuh istri untuk memahamkan anak kondisi yang ga biasa ini #lahcurhat

Aku sepakat sama ibunya melinda. I don't like being a spotlight, aku justru sangat bersemangat menjadi orang yang menyokong penuh keluarga, memfasilitasi kebutuhan perkembangan suami-anak, selalu ada ketika mereka butuhkan day and night.

Sepakat jg sama kak Aye, aku jg sama kaya Nisa, setelah menikah justru makin semangat karena passionnya memang mendidik anak sendiri. Kalau udah punya pakem mudah2an bisa bantu proses belajar anak orang lain juga

Aku rasa jadi seorang perempuan itu seperti bara api, kalau apinya membara maka akan menghangatkan seluruh anggota keluarga. Seorang kepala keluarga yang bertugas mengarahkan keluarga, namun bara semangatnya ada di seorang istri, seorang ibu. Kalau ibunya loyo ya suaminya ga semangat, anaknya apalagi. Mau mimpi apapun, tetap kita harus jadi bara api yang menghangatkan seluruh keluarga, menerangi saat kegelapan menyergap.

Memang seorang istri butuh support suami. Kalau saya amati banyaaak sekali perempuan yang justru menyemangati dirinya sendiri. Ya namanya perempuan kadang baper ya #eaa tapi sesungguhnya itu cuma cari 'perhatian' suami, dan diam-diam sebenarnya para perempuan ini yang menyemangati dan menguatkan dirinya sendiri untuk menjaga bara api. Kerja di rumah atau kerja di kantor, ketika suami pulang melihat suami cemberut kan pasti jadi tambah lelah. Tapi seorang perempuan harus melawan rasa lelah untuk sekedar senyum dipenghujung hari agar dapat menentramkan hati suami dan anaknya.

Jadiiiii. Semangat semuanya para ibuuuu (mau udah punya anak atau belum, tetap saja ada fitrah seorang ibu di diri perempuan).. Semangaat"