Rabu, Desember 09, 2015

Nafkah Batin

NAFKAH BATIN ITU APA SIH ??

Apakah Pasangan Anda Melakukannya?

Ini komentar sejumlah istri, terkait judul tulisan ini:

“Ya ampuun..boro-boro...mendingan tidur kali..”

“Hahaha... opo maneh to iki...lali rasane”

“Ya gapapa sih..asal dibeli beliin dulu..atau ditransferuang dulu”

Komentar ketiga memang ekstrim. Tapi itu nyata ada,bukan rekayasa

Persamaan di antara mereka adalah: ibu-ibu usia 30 tahun ke atas, dengan anak lebih dari satu.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan nafkah batin?

Sepertinya kaum bapak semangat sekali jika membahas ini.. yang saya tangkap, nafkah batin terkait dengan urusan kamar, syahwat, dan sejenisnya.
Pendek kata: masalah seks.

Tapi apakah hal yang sama juga dibatin kaum ibu?
Tidak selalu.
Mungkin iya di awal pernikahan.Tapi seiring dengan masalah juga kelelahan dalam proses berumahtangga, nafkah batin yang tadinya identik dengan hal yang bergelora, malah diimpikan adem saja, dan menyentuh sisi humanisme wanita. Ekstrimnya lagi, masalah seks menjadi nomor sekian belas.. jika unsur batiniah yg lain tidak dipenuhi.

Setidaknya, menurut pengamatan dan obrolan saya dengan sejumlah ibu, inilah nafkah batin yang diharapkan istri dari suami mereka:

1. Suami membantu pekerjaan rumahtangga, pasti ada perbedaan sikap istri.

Jika pulang kerja, suami main lempar barang dan perintah ini itu, masih ditambah komentar soal rumah yang tidak rapi, atau anak-anak yang belum mandi.. dengan suami yang pulang kerja bertanya dengan lembut, “Mau dibantu apa sayang?”
Malah itu gagang pel jadi tidak tega lho pak untuk diberikan pada Anda..

2. Mempercayai Istri mengelola keuangan.

Nafkah lahir, bukan soal berapa nominalnya. Tapi juga soal seberapa terbuka suami terhadap istrinya.Istri yang dijatah uang belanja dengan mepet, serta masih dicurigai nilep uang dengan komentar “Masa uang segitu udah habis? Kan baru seminggu?”, secara batiniah tentulah lebih nelangsa daripada istri yang diberi uang belanja disertai kepercayaan dan keterbukaan suami.
Sukur-sukur disertai ucapan, “Ini gajiku sekian rupiah..kamu kelola ya..jika kurang untuk membiayai rumahtangga kita, aku akan bekerja lebih keras lagi,”

Batin seperti diguyur gerimis sepanjang hari rasanya..

3. Ngajak istri jalan-jalan

Istri manapun pasti senang jika diajak jalan-jalan. Tidak selalu berbelanja dan beli berlian.. cukup dengan mengajaknya makan siang, mengantarnya ke pasar, atau bahkan sesekali menggantikan tugasnya antar jemput anak.

4. Membiarkan istri menekuni hobiBahasa kerennya, “Me Time”.

Istri yang merasa dipenuhi kebutuhan pribadinya, meski dengan waktu yang tak seberapa, akan jauh lebih bahagia dan berseri-seri daripada istri yang merasa waktunya hanya habis untuk keluarga.

5. Tidak membandingkan istri dengan wanita lain

Jangan memuji wanita lain di hadapan istri ya Pak, meski topiknya hanya sekadar warna jilbab. Tidak ada wanita yang suka dibandingkan dengan wanita lain. Walaupun untuk beberapa hal memang kalah telak, namun istri suka dihargai sesuai keunikan pribadi mereka masing-masing.

6. Jadi teman curhat

Pak, andai njenengan tahu.. hobi istri selain mempercantik diri demi Anda, adalah: Curhat. Dengarkan ceritanya, keluhannya, kesedihannya, impiannya.. Meski mungkin sepele dan menimbulkan kantuk bagi Anda.Jangan sampe istri malah curhat ke orang lain.. apalagi suami org lain.

Jangan sampe yaa..

7. Membiarkan istri tidur sampai pagi

Nah, inilah puncaknya.Kadang... membiarkan istri beristirahat, dan tidak ribut dengan urusan “nafkah batin”, justru menjadi nafkah batin yang istimewa bagi para istri..

Itulah nafkah batin yang sangat dibutuhkan kaum wanita. Kalo itu dipenuhi.. Nafkah batin ala bapak2 lancar lah..

(Dari grup wa)

Selasa, Desember 08, 2015

Menerima

Aku yakin kalau Alloh akan mempermudah urusan orang-orang berniat baik, yang berusaha dengan cara yang baik pula. Aku percaya, kalau Alloh sudah mempersiapkan jodoh untuk masing-masing orang, dan bisa jadi yang perlu kita lakukan untuk segera dipertemukan dan mempertahankan jodoh kita itu adalah dengan menerima.

Menerima, karena Alloh sudah mempersiapkan seseorang yang terbaik buat kita. Menerima, karena hanya dengan begitulah kita bisa merasakan apa atau siapa yang terbaik bagi Alloh itu, adalah yang terbaik juga bagi kita.

Ada banyak orang yang tidak merasa bahwa apa yang Alloh tetapkan untuknya adalah yang terbaik baginya. Ada juga yang percaya kalau Alloh selalu memberikan yang terbaik baginya, tapi sebenarnya dia tidak merasakannya. Percaya tapi tidak merasa.

Bisa jadi karena yang bersangkutan belum sepenuhnya menerima ketetapan Alloh. Dan kalau kita yakin bahwa Alloh selalu memberikan yang terbaik bagi kita, harusnya kita tak usah terlalu khawatir, bukan? Semoga Alloh selalu jadi yang pertama :)

Senin, Desember 07, 2015

Hidup kita

Hidup kita sudah ditulis bahkan jauh hari sebelum kita diciptakan, akan tetapi sebagai Maha Pencipta, Alloh memberikan yg sama kepada kita untuk mengusahakan yg terbaik.

Bahkan sebelum memilih pilihan, Alloh sudah mengetahui pilihan-pilihan yg akan kita hadapi. Untuk itu kita diminta berdoa. Alloh memberikan kesempatan yg sama kepada kita untuk memperjuangkan yg terbaik.

Alloh pun sudah mengetahui doa-doa yg akan kita ucapkan bahkan sebelum doa itu kita pikirkan. Untuk itulah kita perlu yg namanya kepasrahan.

Alloh memberikan pilihan takdir kepada kita, kita memohon dipilihkan yg terbaik.

Tetaplah berbaik sangka dgn takdir Alloh. Semoga Alloh selalu jadi yg pertama :)

Hati-hati

Hati-hati bila memulai segala sesuatu dgn ekspektasi. Karena tidak seorang pun bisa mengendalikan perubahan masa depan.

Tapi setiap orang bisa mengendalikan pikirannya. Mulailah dgn ketenangan dan keimanan. Kepercayaan penuh kepada yang Maha Membolak balikan hati bahwa kedepannya akan dijalani dengan pedoman yg kuat, landasan yg teguh, namanya komitmen.

Karena perasaan kadang meluluhkan keimanan, maka jagalah keimanan tetap berada di atas kita. Semoga Alloh selalu jadi yang pertama :)

Aku hanya ingin

Aku hanya ingin melihat kesungguhanmu

Jarak Samudera
https://soundcloud.com/suaracerita/jarak-samudera

:(

Tausiah Ust. Cahyadi Takariawan

Memelihara Rasa Suka kepada Pasangan

“Konsentrasikan ingatan anda. Hadirkan semua sisi kebaikan pasangan anda selama ini. Kumpulkan semua sisi positif pasangan anda”, demikian kalimat perintah saya kepada para peserta Pelatihan Wonderful Family.

“Waktu anda tiga menit untuk menuliskan semua sisi kebaikan dan sisi positif pasangan anda. Silakan mulai menulis !” lanjut saya. Sekitar 100 pasangan suami isteri peserta Pelatihan tersebut segera menulis di atas kertas yang telah disediakan panitia.

Satu menit berlalu. Saya perhatikan peserta serius mengingat kebaikan pasangan untuk dituliskan. Dua menit berlalu. Beberapa peserta tampak sudah selesai menulis. Tak ada lagi kalimat yang akan dituliskan. Tiga menit sudah, waktu untuk peserta habis.

“Waktu habis. Silakan berhenti menulis”, ungkap saya.

“Sekarang hitung berapa poin kebaikan pasangan yang berhasil anda hadirkan dalam tiga menit ini”.

Tampak para peserta menghitung poin yang barusan selesai mereka tuliskan.

“Siapa yang menulis di atas 20 poin?” tanya saya. Tidak seorangpun angkat tangan.

“Siapa yang menulis lebih dari 15 poin?” Seorang wanita angkat tangan. Segera saya minta ia maju ke depan forum. Ternyata ia menulis 16 poin kebaikan suaminya.

“Tolong bacakan 16 poin kebaikan suami tersebut”, pinta saya.

“Suami saya adalah lelaki yang penuh dengan kebaikan. Sangat banyak kebaikannya, tidak cukup waktu bagi saya untuk menuliskan semuanya. Ini sebagian kecil dari begitu banyak kebaikannya”, jawab wanita tersebut terbata-bata.

“Pertama, suami saya rajin ibadah. Kedua, ia lelaki yang ganteng. Ketiga, sikapnya sangat romantis. Keempat, setiap hari selalu ada kata sayang untuk saya.....” lanjutnya.

“Terus?” tanya saya. Ia tidak mampu meneruskan. Matanya berkaca-kaca.

“Biar saya yang membacanya”, ungkap saya. Iapun memberikan kertas kerjanya.

Saya mulai membaca. “....Kelima, senang memijit isteri. Keenam, senang membantu pekerjaan isteri di rumah. Ketujuh, pandai mendidik anak-anak. Kedelapan, suami saya sangat sabar. Kesembilan, menghormati orang tua dan mertua. Kesepuluh, tidak rewel dalam urusan makan.....” dan seterusnya. Saya membacakan enambelas poin kebaikan suami yang ia tuliskan.

Luar biasa. Sangat jarang kami temukan peserta yang mampu menulis kebaikan pasangan dalam waktu sesingkat itu. Hanya tiga menit saja, namun ia mampu menuliskan enambelas poin kebaikan pasangan.

Saya segera mengapresiasi dengan memberikan hadiah kepadanya. Saya katakan di forum, “Bersyukurlah suami yang isterinya mampu melihat sangat banyak kebaikan suami. Bersyukurlah isteri yang suaminya mampu melihat sangat banyak kebaikan isteri”.

Inilah yang sering saya sampaikan di berbagai forum, bahwa cara untuk menjaga rasa suka kepada pasangan adalah dengan jalan mengingat berbagai kebaikan pasangan. Fokus melihat sisi positif, sisi kelebihan, sisi kebaikan pasangan yang ada pada pasangan.

Kenyataannya, setiap hari pasangan hidup kita melakukan sangat banyak perbuatan baik kepada kita, sejak bangun tidur di pagi hari hingga berangkat tidur lagi di malam hari. Sangat banyak perbuatan baik yang dilakukan pasangan kepada kita, namun karena dilakukan setiap hari maka dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Isteri memasak setiap hari untuk keperluan keluarga, dianggap hal biasa. Bahkan sebagian suami menganggapnya sebagai kewajiban, bukan kebaikan.

Suami yang setiap hari bekerja keras mencari nafkah adalah kebaikan. Namun karena itu yang menjadi kegiatannya setiap hari, maka dianggap sebagai hal yang lumrah dan wajar saja. Bahkan sebagian isteri mengatakan, itu bukan kebaikan karena memang menjadi kewajiban para suami untuk melakukannya.

Saya tanyakan kepada para peserta laki-laki, “Apakah para suami di sini rutin memberikan nafkah kepada isterinya ?”

Para suami menjawab, “Ya, kami rutin memberi nafkah untuk keluarga”.

Pertanyaan saya kepada para peserta perempuan, “Siapakah di antara anda yang menuliskan pemberian nafkah rutin sebagai kebaikan suami?”

Ternyata hanya tiga peserta perempuan yang angkat tangan.

Ketika saya tanyakan kepada para isteri di forum itu, “Mengapa anda tidak menuliskan pemberian nafkah sebagai kebaikan suami?”

Jawaban para isteri beragam. Ada yang menjawab, “Karena itu sudah biasa dilakukan, jadi wajar saja”. Ada yang menjawab, “Karena itu memang sudah menjadi kewajibannya”. Ada yang menjawab, “Karena itu sudah menjadi rutinitas, sehingga tidak dicatat sebagai kebaikan”.

Bahkan ada yang menjawab, “Karena ngasihnya Cuma sedikit...”

Berikutnya saya tanyakan kepada para peserta perempuan, “Apakah para isteri di sini rutin memasak untuk keluarga di rumah?”

Para isteri menjawab, “Ya setiap hari kami memasak”.

Pertanyaan saya kepada peserta laki-laki, “Siapakah di antara anda yang menuliskan, isteri rutin memasak untuk keluarga sebagai kebaikan isteri?”

Ternyata hanya dua peserta yang angkat tangan.

Ketika saya tanyakan kepada para suami, “Mengapa anda tidak menuliskan memasak sebagai kebaikan isteri anda?”

Jawaban para suami, “Itu kan sudah menjadi kewajibannya”. Sebagian lain mengatakan, “Itu sudah biasa dilakukan semua perempuan dimana-mana”.

Begitulah mereka memahami tentang aktivitas memasak yang dilakukan isteri setiap hari di rumah. Seakan-akan sudah menjadi kewajaran sehingga tidak dicatat sebagai kebaikan.

Ketika saya tanyakan di forum, “Orang yang melakukan kewajiban itu orang baik atau tidak baik?”

Serentak mereka menjawab, “Orang baik”.

Nah, jadi mengapa anda tidak menganggap kewajiban yang dilakukan pasangan anda sebagai kebaikan? Bukankah orang yang menunaikan kewajiban adalah orang baik?

Kenyataannya, kita semua akan bersedih apabila pasangan kita menolak melakukan kewajibannya.

Maka, janganlah kekurangan pasangan menutupi mata anda, sehingga anda tidak bisa lagi melihat sangat banyak kebaikan yang ia lakukan. Apabila mata anda ditutupi oleh kekurangan pasangan, maka anda tidak sanggup melihat berbagai kelebihan yang dimilikinya.

Mulai sekarang, fokuskan perhatian anda kepada sisi kebaikan dan sisi positif pasangan anda. Jika kebaikan dan kelebihan pasangan yang selalu anda ingat, maka anda akan selalu bersyukur karena memiliki pasangan hidup yang sangat banyak memiliki kebaikan.

Sebaliknya, anda akan selalu mengeluhkan pasangan, jika yang anda ingat hanyalah sisi kekurangan dan sisi negatif pasangan.

Selamat pagi sahabat semua.....

Minggu, Desember 06, 2015

Mematangkan, mendewasakan, melapangkan hati

Kalo ada niat pasti ada jalan.

Sebuah tulisan bagus bagi yg ingin menggenap:

https://tyawulandari.wordpress.com/2015/12/06/tentang-jarak-dan-komitmen/

Pasti ada jalan keluar dari segala permasalah, asalkan kita ga pernah nyerah, dan terus memohon pertolongan Alloh :)